it ain’t me, babe

Kemarin malam, kita mencari kunang-kunang dan jangkrik di pinggir sungai hingga basah selutut. Katamu, kita tidak bisa memaksakan sesuatu untuk bertemu. Tidak ada kunang-kunang tidak ada jangkrik malam itu. Hanya dua orang yang berusaha membuktikan hal-hal sederhana masih terasa luar biasa.

Mari kita pergi berkelana, kataku. Ke tempat yang banyak ceritanya. Barangkali kita akan bertemu kunang-kunang dan jangkrik. Aku mau ke tempat yang tidak terlalu bising, jawabmu. Mungkin di sana kunang-kunang bersembunyi.

Kukira yang paling bising adalah rindu. Dia hadir di mana-mana terlebih lagi bersama sepi. Apa kamu pernah merindukanku? tanyaku. Sambil mengusap-usap hidungmu kamu berkata, aku yang ingin tetap ada di sampingmu meski kita bisa selalu bersama-sama setiap saat, itu rindu. Apa itu cukup?

Kemarin malam, ada yang bercahaya melebihi kunang-kunang, matamu.
but it ain’t me, babe.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s