Untuk Yang Sedang (Tidak) Dalam Pelukan

Akhir-akhir ini aku jarang mendengar suara jangkrik di malam hari. Jangkrik memahami sepi dengan sangat baik. Setiap sepimu bertambah satu dia menimpali dengan terburu-buru.

Kamu bilang kamu tidak suka mendengarkan suara jangkrik. Sesuatu yang terburu-buru, menurutmu, akan cepat berlalu. Secangkir kopi panas yang dihabiskan sekali teguk. Aromanya hanya mencucup di hidung.

Apa kita adalah sesuatu yang terburu-buru? tanyaku. Apa kita pantas menjadi sesuatu dan patut dipertahankan?

Katamu, mengapa semua hal harus selalu dideklarasikan. Kita tidak pernah melihat jangkrik di malam hari tapi kita percaya jangkrik itu ada karena bersuara. Tidakkah cukup dengan telah ada? Seperti kunang-kunang yang menyala. Kunang-kunang bercahaya begitu saja tanpa suara, menjalani takdirnya sampai dia padam sendiri.

Bagaimana kalau malam ini kita berburu kunang-kunang dan suara jangkrik saja?
Aku rindu hal-hal sederhana yang tanpa nama dan tak mengenal apa-apa.
Kamu yang tersenyum sambil menjawab aku juga rindu, misalnya.
Atau kamu yang duduk diam memelukku sampai semua kembali baik-baik.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s