a scent, a breath you left behind

… aku ingat senyummu.

satu satu dua tiga lima delapan tiga belas dan seterusnya.

hemh?
sebelah kiri, iya, pelipis sebelah kirimu.
aku pernah mengecupmu dalam-dalam di situ.
pelupuk matamu menutup, kamu menahan napasmu, aku bisa meraba embusnya, waktu terasa berat dan berhenti di tubuhmu. kita malu-malu untuk sama-sama rapuh, kita sama-sama berdebar dan menjaga agar tak luluh, alih-alih jatuh dan hancur tak bersisa.

seharusnya aku memelukmu.
mengekalkan hangatmu untuk yang tetakhir kali.
tapi terkadang turun hujan pun memaksa untuk tetap melaju.
aku menarik diriku darimu dan berlalu, meninggalkanmu terdiam begitu saja.
begitu saja.

gemetar.
mencelus.

… aku juga ingat sedumu.

_____________________

setelah sekian tahun,
tadi pagi aku minum kopi lagi.

rasanya masih sama ternyata.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s