Wintercearig

Kepada kamu –yang penuh cinta

Hari ini hujan.
Bukan hujannya yang mengguyurku seharian.
Aku kuyup oleh tangisku sendiri, tanpa basah tanpa suara. Sehebat apapun aku menyangkal, luka selalu punya cara untuk melumpuhkanku.
Kenangan terkadang jadi perangkap, menangkapku seperti seekor ikan yang terkait sebuah kail lalu dibawa ke daratan, menggelepar tak berdaya. Seperti tergelincir ke dalam kubangan danau es lantas tenggelam di situ.

Dan hujan selalu bisa mendatangkan kenangan apapun. Kenangan akan pertengkaran-pertengkaran dan kepergianmu yang tanpa kata-kata. Kepergian yang membuat detak jantungku tak lagi sama, tak lagi menggelora, mati rasa. Kesedihan yang terlupakan sejenak, namun belum selesai. Kesedihan yang membuat sekujur tubuhku seperti membiru, menggigil, beku. Jadilah aku si manusia salju terbesar yang pernah ada, semesta seolah-olah memasangkan gumpalan-gumpalan kesedihan di seluruh tubuhku. Kesedihan yang seperti itu–yang membuatku tak lagi merasakan hangat tubuhku sendiri–sedingin musim hujan, sebeku musim dingin, bahkan mungkin lebih dari itu. Wintercearig.

Kepada kamu–yang penuh cinta,
Aku bosan kehujanan, sendirian.

Hari ini hujan berhasil menghukumku.
Mungkinkah kita, berdamai?

————-

Wintercearig (Old English)
Literally “winter-care” or “winter-sorrow”.  The feeling of sadness equatable to the cold of winter.

Advertisements

One thought on “Wintercearig

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s