enam mei dua ribu dua belas

sementara borobudur melepas puluhan lampion malam ini, di kotaku turun hujan.

bukankah kita pernah kuyup bersama di bawah hujan. atau basah karena air mata.

hujan, malam:
turbulensi ingatan, mesin waktu.

tiga belas april,
perjalanan pulang.
di remang angkot dan sorot lampu kendaraan di belakang, membias rintik hujan.
sinar matamu tak tertangkap,
parasmu tak terekam,
hanya segaris senyum yang menyembunyikan kegamanganmu,
dan aku yang tak bisa menenangkan gelisah hatiku.
detik itu kita diam, larut di dunia masing-masing.
sampai di ujung perjalanan, tak ada peluk atau kecup,
bahkan tak ada genggaman yang enggan dilepas.
sehari penuh pertemuan terakhir.
hadiahmu untukku.

malam ini,
bukan lampion yang kuterbangkan ke tempatmu,
bukan sebungkus coklat pelipur lara yang kukirim untukmu,
atau sekotak musik lagu-lagu kita yang kuperdengarkan padamu.

hanya sebuah email:
“saya? cuma kangen kamu.”

dan jawabnya:
“i miss you more…”

seketika itu,
aku tersenyum,
pesannya sampai dan berbalas.
cukup di situ.
tak perlu argumen luka.
____________

* sampai kita dipertemukan lagi,
akan kupersiapkan lampion, sebungkus coklat dan kotak musiknya yang terindah untukmu ya. tanpa hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s