Peri Bintang (3)

Caño Cristales, river of five colors, the river that ran away from paradise.

di antara hujan dan kemarau,
saat Macarenia clavigera memekar merah,
hiasan pasir kuning dan hijau dialir biru air,
seribu nuansa.
maka terciptalah sungai lima warna,
pelarian dari surga.

dari tamannya di luar angkasa, tatap peri bintang sering tertuju di situ,
kembaran sungai pelangi kepunyaannya.
maka serupa kenangan terlintas,
seolah berkata, di sana pernah ada kisah tentangnya.

di sungai itu, Caño Cristales, di mana sebagian besar di sepanjang tahun hanyalah sebuah sungai yang hijau kusam,
tangis sang peri menitik.
dan dengan gesa dihapusnya.
bumi tak boleh buram karena kesepian terdalamnya,
sang peri paham benar tugasnya menjaga bintang-bintang.

sang peri ingin membagi senyumnya,
bukan hanya senyuman karena semua bintang bersinar terang.
sang peri ingin didengarkan, bukan melulu mendengarkan.
resiprokal, sebuah saling, berbalasan.
bahagia yang tak sendiri.

sang peri tak dapat menyangkal,
galaksi seindah ini tak mungkin dinikmati hanya oleh dirinya seorang.
rengkuhnya seluas bima sakti, tapi hatinya tak terpeluk.

di setitik bintang kecil dia menoreh:
~ semakin kamu sangkal, semakin nyata dihadapanmu. pernahkah terpikir, mungkin saja itu cara semesta menyatakan bahwa penyangkalanmu sia-sia?

sang peri inginkan perjumpaan,
dengan seseorang yang akan selalu menggenggam tangannya, menyentuh hatinya.
memahami kisahnya, tentang ketulusan.
seorang belahan jiwa.

seseorang yang bisa memenangkan dan menenangkannya.
takdir sejatinya.

un verdadero amigo es el que sostiene tu mano y toca tu corazón,
a true friend is the one who holds your hand and touches your heart.

di sungai itu, Caño Cristales,
dialirkan harapannya,
pada Macarenia clavigera, pasir kuning dan hijau, serta biru air.

seperti itu,
sambil sesekali ditengoknya,
adakah lampion sampai di tamannya sebagai balasan pengharapannya.
adakah kail yang mengait pesannya di sungai lima warna.

dalam penantiannya,
sang peri tetap menatap lekat Caño Cristales,
dari hulu ke hilir.
sebuah awal menuju akhir dan akhir kepada awal,
bermula dan bermuara.
dia tetap bersabar, tak pudar.
seperti kecintaannya pada sungai itu.
kerinduan.
bukankah itu yang akhirnya akan tersisa dari sebuah pertemuan dan perpisahan

siempre hay algo dejó al amor, there is always something left to love.

sampai suatu saat tiba di hadapannya, sebait tulisan untuknya pada sebulir tetes.

~ kalau sebuah pelukan benar dapat menyelesaikan segalanya, maka izinkan aku memelukmu, untuk merayakan, atau mengakhirinya.
: one hundred years of solitude.

*one hundred years of solitude, gabriel garcia marquez

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s