Peri Bintang (2)

seharusnya,
sudah sepuluh turus,
yang terkumpul sejak senja itu,
saat hadirnya membias di bawah jubah,
seolah tak ingin ada yang menyentuhnya.

di situ, aku terpaku,
pada sosok serupa peri, yang ucapnya tergugu,
matanya kuyu, lirihnya sayup, pun sayapnya merapuh.

seperti samsara kelamaan, sedih tertahan.
apakah luka tak tersembuhkan?
atau sepi menangkarkan?

wahai peri,
tak perlu menjadi jatuh,
hanya untuk mengabulkan permintaan,
tak perlu mendera diri, bila menimba derita.
bentangkanlah dan mengangkasa,
menuju kebahagiaan,
bersama renjana.

hari ini,
dua belas melati yang kusimpan di sakuku,
ingin kusematkan padanya, menguatkannya.

mungkin aku tak bisa menyelamatkan hatinya, namun izinkan aku menghangatkannya, merengkuhnya sejenak dan ucapkan:
“bertahanlah, sampai kamu dan kebahagiaan abadi saling memeluk memiliki.”

yang aku bisa hanya ini (kamu tak layak begini)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s