Peri Bintang (1)

di sepenggalan petang menuju malam
ada sebuah kisah paralaks astronomi.
sesosok peri,
menjaga perpendaran rasi di hamparan bima sakti.
memastikan semua bintang berpijar di tempatnya.
dikecupnya satu-persatu lalu ditiupkan sebait syair pada astral.

“dalam teduh, sinarmu adalah kekuatan. dalam hening, kerlipmu adalah rindu yang terjaga.”

dibentangkanlah sayapnya menurunkan keajaiban. menjadikan syahdu pada malam.

lalu sang peri kembali ke tamannya,
seratus bunga mawar raksaksa berbeda warna.
sambil sesekali memanggang kue-kue manis sekeranjang.
yang akan ditukarnya dengan permintaan dan pengharapan saat sang peri menjatuhkan diri.

di sisi taman, ada sedanau penuh konstelasi.
muara sungai pelangi, “the liquid rainbow”,
yang di bawahnya mengalir bintang berwarna-warni, yang terkadang diturunkannya ke bumi sehabis hujan.

malam ini,
sang peri bintang bersimpuh di situ,
dengan menelungkupkan kedua tangannya, sayapnya terlipat lunglai.
sang peri kelelahan,
sendiri kebingungan, sepi.
meliuk di pucuk rindu, kekangenan.

ah semesta,
bisakah kamu buat aku terbang ke tempatnya?
untuk menghiburnya dengan seperangkat alat sulap yang aku punya. yang isinya senyum, peluk, dan tawa. atau hanya sekedar diam di sampingnya.

atau bisakah kamu sampaikan ini padanya?
“wahai peri, tolong kabulkan permintaanku yang sederhana ini ya, maukah kamu tersenyum untuk dirimu sendiri? senyum ya? lalu biar bergantian aku yang mendengarkan permintaanmu dan memenuhinya.”

– bukankah yang merindukanmu lebih banyak wahai peri bintang?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s