Melawan Hujan

Untuk kamu yang sedang menjalani Sabtumu.

Aku pernah memburu senyummu di suatu senja. Melawan hujan untukmu.
Kamu masih ingat? Tentang sepenggal Sabtu yang menekuk raut wajahmu. Kita yang akhirnya bertemu di sisa hujan. Tak ada sedikitpun lengkung di sudut pipimu waktu itu.

Langit maghrib jadi saksinya. Di sebuah rumah makan Padang, kita menghabiskan senja (juga dua nasi putih, rendang, kikil, dan teman-temannya). Hingga akhirnya, semua jurus-jurus leluconku bisa membujukmu untuk sedikit tersenyum sampai kamu tertawa lagi (iya, aku tahu aku tidak selucu itu, entah pengaruh makanannya atau kamu yang menertawakan ketidaklucuanku seperti biasa).

Di ujung perjumpaan kita, kamu bilang padaku sambil tersenyum, “Terima kasih ya, ini senyumku untukmu, senyum paling indah.”

Aku berhasil memenangkan senyummu, tapi tidak hatimu.

di titik aku menaruh sebongkah es di hatiku dan berseru melawan hujan, seberjuang apapun itu, tetap bukan kamu yang bisa kudekap di akhir nanti.
dan aku, akan tetap lantang melawan hujan, mengalahkan gelegar, menghentikan gemuruh di hatiku, sampai berani katakan: aku sayang kamu.
bukan murka melawan hujan, aku datang tidak untuk berperang, hanya memastikan, sekuyup apapun aku dikalahkan, bertahanku untukmu.

Semoga ini sampai padamu dan kamu tahu, ada aku, yang menjatuhkan hatinya untukmu, seperti titik hujan waktu itu: deras.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s