Sesuatu yang Seharusnya Sudah Selesai

Kemarin, aku menatap matanya.
Bola matanya seperti bintang, bahkan lebih terang, cahaya yang menembus pejam.

Kamu tahu? Seperti saat kamu menutup matamu, menghirup lamat-lamat napasmu, tak ada gelap di pelupuk, hanya ada sosok yang membuatmu tulus tersenyum.
Sinar di matanya, serupa itu.
Membekukanmu dengan kehangatan.

Sudah lama aku tak melihatnya semenenangkan ini. Dia sedang memasangkan bintang-bintang di langit malam.

Kamu tahu? Sebenarnya aku tak pernah berani menyapa dirinya, entah mengapa kemarin malam aku membisik namanya.
Dia tersenyum. Senyum yang sama yang selalu membuatku merindukannya dari kejauhan.
Dia membalas sapaku, dia mengingatku, dia mengenaliku dari doa-doa yang sampai ke tempatnya. Doa yang kuikatkan bersama lampion lalu kuterbangkan ke angkasa, doaku untukmu.

Dia berkata, “Suatu saat, bintang-bintang akan berserakan. Langit turun ke kaki bumi. Saat semua itu tiba, tak ada yang bisa menyelamatkan dirinya sendiri”.
Aku hanya terdiam.
“Mengapa kamu tak menyelamatkan dirimu sendiri saat kamu masih memiliki banyak waktu?” tanyanya padaku.
“Jangan terlalu lama bersedih, waktu yang kamu larutkan dalam sedihmu, mungkin saja seharusnya waktumu untuk membuat seseorang tersenyum,” dia melanjutkan.
Aku masih tetap terdiam.

Kamu tahu? Sejak berlalumu, ceritaku hanya tentang sepi dan kesedihan. Luka-luka yang kucoba sembuhkan. Namun, aku selalu patah di tengah jalan. Dan di saat itulah aku menemukan sosoknya di langit-langit malam.

Terkadang, aku merasakan, dia menanggung kesedihan lebih dariku di punggungnya, yang membuat sayapnya tak bisa mengepak bebas.
Hati yang merasakan hal yang sama, bisa saling mengenali, meski berjauhan dan tanpa kata-kata. Saat malam tak berbintang atau kelam, aku tahu dia sedang menyimpan dukanya dalam-dalam. Saat dimana aku hanya bisa menggambarkan lengkung-lengkung senyum, menuliskan kata-kata penghiburan untuknya dan untukku sendiri.

Kamu tahu? Kemarin malam dia luar biasa indah. Sayapnya membentang serasi bintang. Kesedihannya pergi menghilang. Dia berhasil memenangkan pertarungan yang selama ini membelenggunya. Tabahnya membawa kebaikan. Sabar yang baik, katanya.

Aku tahu, hatinya lebih kuat dari segala cobaan yang datang kepadanya.
Tidak seperti hatiku, hatiku terlalu mengenal hatimu. Hatiku masih memanggil namamu dalam setiap sepi. Hatiku masih berharap kamu pulang dan menyembuhkan semua luka darimu. Hati yang selalu mendoakan kebahagiaan untukmu.

Dia menyadarkan lamunanku.
“Sampai kapan kamu akan seperti ini?” tanyanya. Mungkin, kalau aku bisa, aku ingin menangis di peluknya, berdiam sejenak di situ. Meruahkan segala rasa.
Bukan lagi pelukmu, meski aku sangat merindu pelukmu. Aku tak bisa lagi pulang ke situ. Aku harus menyelamatkan hatiku. Menyelamatkan dirimu dariku.
Tapi tidak, tangisku kutahan, yang aku perlukan melepaskan dirimu. Mengikhlaskan, katanya.
“Tak bisa kamu menanam mawar di taman bukan kepunyaanmu, dia mungkin tumbuh, namun tak akan seindah di tamanmu sendiri. Tak akan bisa kamu miliki. Yang bisa kamu tanam hanyalah kebaikan dan doa.” katanya padaku.

Kemarin malam, aku jatuh di kedalaman matanya. Hatinya menguatkanku, hatinya menyelamatkan hatiku, lagi.
Dia, Peri Bintang.

Kamu tahu? Kamu selalu teristimewa untukku.
Ada kalanya, hati diikatkan hanya untuk belajar melepaskan. Mungkin itu aku dan kamu. Mungkin itu sang peri dan kisahnya sendiri.

Senyum tak akan menenggelamkan lengkungnya sendiri, bahagia tak akan membunuh dirinya sendiri. Keduanya tak akan meninggalkanmu. Ketika keduanya menghilang, senyum dan bahagia sedang menempa diri menjadi lebih kuat bersama ketulusan. Namun dia tetap ada di hatimu.

Meski aku dan kamu henti,
Doaku selalu sama sampai nanti, kamu yang tersenyum dan berbahagia.

Begitupun doaku untuk sang peri.
Dan untukku sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s