Hari Ini Masih Hujan

Hari ini masih hujan.
Masih tanah-tanah yang basah dan genangan-genangan.
Jemuran ibu bergelantungan, menanti matahari seperti seorang kekasih yang lama tak kunjung tiba.
Di setiap baju-baju yang lembab itu ada kesabaran kasih ibu. Tak ada yang sesetia dirinya. Sejauh apapun pergi, pelukan ibu adalah tujuan pulang yang terbaik. Membuat hatimu kembali ke rumah tanpa perlu mempertanyakan, tanpa butuh alasan.

Ngomong-ngomong tentang ibu, bagaimana kabar ibumu? Semoga ibumu, dan juga kamu, sehat selalu dan penuh bahagia ya.
Ibuku di sini baik-baik saja, masih dengan cerewetnya mengingatkan anak-anaknya, mulai dari bangun tidur sampai masuk kamar lagi di malam hari.

Apakah kamu pernah membayangkan bagaimana duniamu ketika ibumu pergi untuk selamanya? Tentang bagaimana cara takdir mengantarkan kepulangannya? Berapa air mata yang harus menetes di pelupukmu hingga akhirnya kepergiannya itu kamu ikhlaskan? Pertanyaan-pertanyaan yang rasanya memikirkannya saja sudah enggan, namun suatu saat, pertanyaan-pertanyaan itu benar-benar akan menyapamu siap-tak siap.

Aku pernah menyaksikan kepulangan seorang ibu. Ada sedikit hujan waktu itu, namun tak selebat hari ini, tak sederas air mata dari mata-mata yang menatap tubuh kakunya.
Seorang ibu yang selalu berjuang di seluruh perjalanan hidupnya bahkan hingga detik terakhirnya.

Ah ya, ibu mana yang tidak akan berjuang dan berkorban demi kebahagiaan anak-anaknya. Ibu lebih dari sekadar pahlawan tanpa tanda jasa, bahkan rasanya tak pernah ada julukan, peraturan atau apapun itu yang meresmikan bahwa ibu adalah seorang pahlawan. Tapi ibu tak butuh itu, ibu adalah pahlawan di hati anaknya masing-masing, dan itu cukup baginya. Ibu selalu penuh ketulusan, seperti doa-doa ibu yang melulu didaraskannya diam-diam.

Kamu tahu, (seharusnya) semua anak pasti akan selalu bangga dengan ibunya masing-masing. Seperti kamu yang bangga dengan ibumu dan aku yang bangga dengan ibuku. Namun terkadang banyak juga yang tak menyadarinya sampai kehilangan datang.

Tak pernah ada waktu yang tepat untuk merasakan kehilangan, tak pernah ada yang mempersiapkan dirinya akan kehilangan. Tapi kehilangan punya waktunya sendiri dan itu yang paling tepat menurut suratan. Tentang kehilangan, dia tak ingin dibicarakan, maka air mata yang membahasakan. Serupa hujan. (Sesungguhnya, hujan tak pernah benar-benar melarutkan lara. Seperti sederas-derasnya air mata yang tak serta-merta mengikhlaskan kehilangan).

Hujan deras seperti ini, berdiam di pelukan ibu mungkin tidak akan sedingin ini rasanya ya. Sampai tiba suatu saat nanti –ketika kamu, atau juga aku, memeluk ibu namun seluruh tubuhnya dingin membiru dan tak membalas sedikitpun senyummu– semoga ibumu, ibuku, dan semua ibu yang ada di bumi ini, bisa selalu berbahagia. Semoga semua anak bisa membahagiakan ibunya. Bisa kembali menghadirkan senyum, tawa, tangis bahagia, dan juga sinar mata yang sama seperti ketika dia pertama kali melihat anaknya lahir di dunia ini.

Kalau ibu tak ada, hidup memang akan terus berjalan. Tapi hari-hari tanpa suara ibu dan seluruh dirinya, tak akan sama lagi rasanya.
(Ibu, jika nanti sesudah hujan muncul pelangi, itu untuk ibu).

Aku bantu ibu membereskan jemurannya dulu ya. Hujan masih belum reda. Sampai di sini dulu.
Titip peluk untuk ibumu, dari aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s