Kepada Kakak

Hai kak..
Sudah mandi?
Aku belum, di luar masih hujan, terlalu dingin cuacanya. Sebenarnya ini alasan saja, seperti yang kakak bilang, ngapain mandi sering-sering, nanti jadi luntur cantiknya. Sebagai adik yang baik, aku patuh padamu kak.

Dan di luar masih hujan.
Mungkin hujan kesekian di antara perkenalan kita. Perkenalan yang bermula di lini masa.
Pertemanan lewat kata-kata. Tunggu, apa kita sudah bisa disebut sebagai teman kak? Atau masih sekadar kenal? Karena sekali bertemupun belum pernah. Apapun itu, dari kejauhan, hatiku nyaman dengan kehadiranmu.

Iya, kehadiran kakak sejak tahun lalu membawa warna baru bagiku. Setiap perkenalan memiliki tujuannya sendiri, setiap kebersamaan membawa ceritanya masing-masing. Walau kebersamaan kita hanya lewat pesan-pesan singkat, setidaknya sudah banyak cerita tertulis dari percakapan-percakapan yang tak tentu arah. Entah mengapa membahas makanan, buku, atau hal-hal yang tidak penting menjadi menyenangkan denganmu.

Tapi semua tidak melulu hal menyenangkan bukan? Masa-masa itu. Masa-masa dimana ada banyak diam dan hal-hal yang sebaiknya tidak diingat. Masa dimana aku dan kakak sama-sama butuh distraksi. Syukurlah semua sudah berlalu ya kak. Aku kangen juga sama kata-kata ini “kamu kenapa lagi ini ri?” Sedikit bikin aku takut kalau kata-kata itu keluar, kaya adik kecil ketahuan berbuat nakal sama kakaknya. Tapi setelah itu, kakak dengan sabar dengerin ocehan aku. Terima kasih ya kak, sudah menguatkan setahun kemarin. Kalau kata kakak, sadar ga sadar, kita saling menguatkan.

Aku masih punya janji sama kakak, menyelesaikan yang tertunda dan belum beres. Tulisan-tulisan yang setengah jalan.
Suatu saat, kalau benar-benar terwujud, semua itu buat kakak. Semoga.

Hahahaha, aku jadi pengen ketawa sendiri. Rasanya terlalu formal ya? Aku tahu, kita berdua ga cocok bicara terlalu sopan gini, atau saling puji gitu. Paling pas itu ya kalau kakak sudah getok aku, atau tendyang gitu. Hahahahaha.
Dih, aku mulai malu sendiri. *kasih emot lari di sini*

Kak, di luar masih hujan.
Hujan yang jatuh di kotaku, mungkin suatu saat akan sampai di kotamu. Tapi hujan akan berhenti. Dan jika semua cerita ini harus ada akhir, semoga sekali saja benar bisa bertemu denganmu. Sampai saat itu tiba, biar pelukan tak lepas diikat doa di dalam hati.
Terima kasih untuk semuamu ya kak.

*Iya, ini dari adikmu yang suatu malam pernah mengirimkan pesan untukmu kalau adikmu itu tiba-tiba ingin duduk terdiam di sebelahmu.
: Sebab aku mengenalimu dari hatimu. Dan hatimu menaklukkan hatiku.

Di luar masih hujan, aku mandi dulu ya. Kakak jangan malas mandi, nanti ada kambing bandot. *kemudian digetok*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s