Sebab Aku Tak Sehebat Itu Mencintaimu

: a reply
Katamu, kamu tidak bisa membuatku mencintaimu seperti kamu mencintaiku.

Tapi aku mau mencintaimu dengan caraku sendiri. Yang awalnya tidak terburu-buru dan penuh ragu. Yang mengagumi diam-diam lantas tak bisa dibendung.

Suatu saat, aku akan sangat kaku dan kikuk. Alih-alih mengungkapkan cinta malah membicarakan Blaise Pascal. Katanya, “Le coeur a ses raisons que la raison ne connaĆ®t point.” The heart has its reasons that reason knows nothing of.

Suatu saat, aku juga akan sangat tergesa-gesa. Melakukan apapun demi membuatmu baik-baik saja. Atau bahkan sedikit memaksamu untuk tersenyum. Aku tahu itu salah, memaksamu. Tapi lalu, kamu akan berkata, “Tidak apa-apa.. mencintai tidak perlu petunjuk pelaksanaan, lakukan dari hatimu.”

Yang seperti itu, bukankah membuatku lebih jatuh hati padamu?

Tidak sebesar kamu mencintaiku. Tidak sehebat kamu jatuh hati padaku. Tidak perlu diadu. Tidak pakai tapi.

Bisa jadi, aku tidak berdaya di hadapanmu. Mungkin pula, aku menggebu-gebu tanpa henti memujamu. Duduk di sampingmu tanpa satu kata pun atau menghadiahimu sekotak cokelat, seikat bunga, sekeranjang kue, dan setangkai gulali.

Akan ada juga masanya di mana aku merasakan hal yang sama dengan apa yang kamu pikirkan. Mengapa kamu tidak bisa mencintaiku seperti aku mencintaimu? Bila tiba waktunya seperti itu, aku mau kamu mengingatkanku. Karena cinta seharusnya membebaskan dan perihal menjadi diri sendiri.

Di suatu hari yang menyisakan kelelahan, di mana kita terlalu keras terhadap satu sama lain dan diri sendiri, semoga kita akan selalu saling memaafkan. Dan di ujungnya, kamu akan berkata, “Sudah, besok, mari kita mencintai lagi.”

Kita akan jatuh cinta berkali-kali, setiap hari.

Apa yang seperti itu, cukup?



Advertisements

it ain’t me, babe

Kemarin malam, kita mencari kunang-kunang dan jangkrik di pinggir sungai hingga basah selutut. Katamu, kita tidak bisa memaksakan sesuatu untuk bertemu. Tidak ada kunang-kunang tidak ada jangkrik malam itu. Hanya dua orang yang berusaha membuktikan hal-hal sederhana masih terasa luar biasa.

Mari kita pergi berkelana, kataku. Ke tempat yang banyak ceritanya. Barangkali kita akan bertemu kunang-kunang dan jangkrik. Aku mau ke tempat yang tidak terlalu bising, jawabmu. Mungkin di sana kunang-kunang bersembunyi.

Kukira yang paling bising adalah rindu. Dia hadir di mana-mana terlebih lagi bersama sepi. Apa kamu pernah merindukanku? tanyaku. Sambil mengusap-usap hidungmu kamu berkata, aku yang ingin tetap ada di sampingmu meski kita bisa selalu bersama-sama setiap saat, itu rindu. Apa itu cukup?

Kemarin malam, ada yang bercahaya melebihi kunang-kunang, matamu.
but it ain’t me, babe.

Untuk Yang Sedang (Tidak) Dalam Pelukan

Akhir-akhir ini aku jarang mendengar suara jangkrik di malam hari. Jangkrik memahami sepi dengan sangat baik. Setiap sepimu bertambah satu dia menimpali dengan terburu-buru.

Kamu bilang kamu tidak suka mendengarkan suara jangkrik. Sesuatu yang terburu-buru, menurutmu, akan cepat berlalu. Secangkir kopi panas yang dihabiskan sekali teguk. Aromanya hanya mencucup di hidung.

Apa kita adalah sesuatu yang terburu-buru? tanyaku. Apa kita pantas menjadi sesuatu dan patut dipertahankan?

Katamu, mengapa semua hal harus selalu dideklarasikan. Kita tidak pernah melihat jangkrik di malam hari tapi kita percaya jangkrik itu ada karena bersuara. Tidakkah cukup dengan telah ada? Seperti kunang-kunang yang menyala. Kunang-kunang bercahaya begitu saja tanpa suara, menjalani takdirnya sampai dia padam sendiri.

Bagaimana kalau malam ini kita berburu kunang-kunang dan suara jangkrik saja?
Aku rindu hal-hal sederhana yang tanpa nama dan tak mengenal apa-apa.
Kamu yang tersenyum sambil menjawab aku juga rindu, misalnya.
Atau kamu yang duduk diam memelukku sampai semua kembali baik-baik.

light me up

nanti akan kubawa ke mana-mana,
semua lampu di kota
juga lilin penjaga malam.
agar setiap bersamamu bisa kupasang di seluruh sudut kamar atau sekujur tubuhmu.

image

image

image

aku tak mau malam begitu gelap untukmu.
kita di bawah langit luas yang bintang-bintangnya kadang datang kadang tak terlihat.
maka berbaringlah bersamaku
biar kuceritakan sesuatu.
kita, anak semesta yang mengangkasa dan terbenam sesekali.
dibawa bintang jatuh, terbang atau menjejak bumi.
setinggi doa sedalam rindu diam-diam.
menjadi apa saja dengan beribu pengharapan.
dan ketika segalanya berhenti dan tidak ada lagi kekuatan, aku akan selalu di sampingmu.
kita tetap menjadi anak semesta.
sampai akhirnya kita redup dan padam.

lampu-lampu akan terus menyala.

image

image

image

would you let me see beneath your beautiful?

aku ingin mengangkasa denganmu,
picisan,
ala-ala romantisme pinggir jalan.
roti bakar berdua dan secangkir kopi di bawah tenda.
senyummu leleh di semangkuk indomie-telur-kornet-keju-bon cabe.
aku tidak mau malam membawamu pergi begitu saja bersama kantuk.
aku akan membacakan puisi kacangan dari koran pembungkus kacang yang dibeli terburu-buru sesudah hujan.
terkesima.
ada banyak yang tidak bisa kuutarakan.
langit luas dan hatimu tidak ada batasnya.
seharusnya kita bisa meminta apa saja.
bahkan untuk semangkuk indomie tambahan atau segelas air putih untuk meredakan segala gelora.
tapi apa bisa aku memintamu untuk selalu ada?
tidak.
maka aku akan meresapi semuanya,
perlahan.

malam ini abadi,
di dalam warung remang-remang.
matamu, terang.